Sabtu, 15 Agustus 2009

PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN NILAM

PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Penyakit layu bakteri merupakan salah satu penyakit penting pada nilam. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, yang terdapat pada beberapa serangga, jenis serangga tersebut berpotensi sebagai agen penyebar penyakit layu bakteri ini antara lain serangga dari ordo Hymenoptera (Apidae), Diptera (Chloropidae, Scaaridae, Sarchopagidae, Antomyidae, Platyzidae, Tephritidae, Drosophilidae,Muscidae, Syrphidae, Culicidae), Lepidoptera (Coleophoridae), Blattaria, (Blattidae). dan dapat menurunkan produksi nilam 60−80% sehingga menjadi kendala dalam peningkatan produktivitas nilam.
Pengendalian patogen dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan yaitu Sidikalang, teknik budi daya ( pemupukan, bahan organik, dan mulsa ), pestisida hayati ( Pseudomonas fluorescens dan Bacillus sp.) , pestisida nabati (serai wangi), pengendalian kimiawi ( bakterisida), dan membatasi penyebaran patogen dari daerah terinfeksi ke daerah yang tidak terinfeksi. Pengendalian penyakit layu bakteri harus dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan berbagai teknik pengendalian.
Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan komoditas ekspor penting di Indonesia. ekspor minyak nilam mencapai 1.276 ton dengan nilai US$ 19.264 juta (Direktorat Jenderal Perkebunan 2006). Indonesia merupakan pengekspor minyak nilam terbesar di dunia dengan memasok hampir 90% kebutuhan minyak nilam dunia. Oleh karena itu, minyak nilam di indonesia diharapkan dapat meningkatkan sumber pendapatan negara dari sektor nonmigas. Minyak nilam mempunyai prospek baik untuk memenuhi kebutuhan industri parfum dan kosmetik. Minyak nilam dapat pula digunakan sebagai antiseptik, insektisida, dan aromaterapi. Patchouli alcohol merupakan komponen utama minyak nilam dan digunakan sebagai indikator kualitas minyak nilam.

2. Tujuan
Tujuan yang akan di capai dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tanaman nilam mudah terserang penyakit.
2. Untuk mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam pengendalian penyakit layu pada tanaman nilam .
3. Untuk mengetahui cara yang tepat dalam bertani tanaman nilam.

3. Rumusan masalah
1. Faktor-faktor apa yang menyebabkan tanaman nilam mudah diserang penyakit ?
2. Bagaimana langkah-langkah yang tepat dalam pengendalian penyakit layu pada tanaman nilam ?
3. Bagaimana cara yang tepat dalam bertani tanaman nilam ?

4. Metodologi penelitian
Untuk mengetahui terinfeksinya tanaman nilam dapat dilakukan dengan cara, Potongan batang nilam yang terinfeksi direndam di dalam air maka akan terlihat aliran massa bakteri patogen. Hasil pengamatan pada sayatan tipis batang tersebut secara mikroskopis menunjukkan adanya massa bakteri patogen yang keluar dari jaringan pembuluh kayu. Melalui metode ini dapat diketahui secara pasti bahwa nilam yang bergejala layu tersebut telah terinfeksi oleh bakteri patogen pembuluh kayu. Metode ini merupakan karakterisasi awal secara makroskopis dan mikroskopis serangan bakteri patogen pembuluh kayu.
Pada medium Yeast Peptone Agar (YPA), bakteri patogen berbentuk koloni tidak teratur, berwarna putih dan fluidal yang merupakan ciri khas koloni R. Solanacearum. Bakteri patogen mempunyai daya virulensi yang berbeda-beda dengan masa inkubasi 14,60−39,30 hari setelah inokulasi. Bakteri R. solanacearum mempunyai reaksi negatif terhadap hidrolisis pati, gelatin, arginin dan produksi levan, dan bereaksi positif terhadap uji katalase, oksidase, akumulasi PHB, dan denitrifikasi. Isolat bakteri patogen dapat tumbuh pada NaCl 0−2% dengan pH 4−8,50 dan suhu 13−37oC, tetapi tidak dapat tumbuh pada suhu 41oC. Jika bakteri ditumbuhkan pada medium YPA ditambah tetrazolium salt dan diinkubasi selama 24 jam maka akan terlihat koloni berwarna putih, fluidal dengan pusat koloni berwarna merah jambu. Tipe koloni ini merupakan koloni R. solanacearum virulen . Dari pengecatan negatif dan setelah diuji dengan HCl terlihat bakteri berbentuk batang dan bersifat gram negatif. Berdasarkan karakterisasi bakteri patogen dengan berpedoman pada sifat- sifat bakteri dan bentuk koloni bakteri dengan mengacu pada metode Hayward (1976) dan Denny dan Hayward (2001), diketahui bahwa bakteri patogen penyebab penyakit layu bakteri pada nilam adalah R. solanacearum. R. solanacearum dapat menggunakan sumber karbon dari dektrosa, manitol, sorbitol, dulsitol, trehalosa, laktosa, maltosa dan selobiosa, yang berarti bakteri ini termasuk biovar .


LANDASAN TEORI

Masalah hama terjadi karena adanya sistem yang tidak seimbang. Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan hama, yaitu , Kebakaran, banjir dan pembukaan lahan baru Penggunaan areal tanah yang luas hanya untuk satu jenis tanaman (monokultur) Masuknya hama dari suatu daerah ke daerah lain Punahnya predator-predator hama dan pindahnya habitat predator hama karena penggunaan pestisida Solusi pengendalian hama jangka panjang dibutuhkan untuk mengembalikan keseimbangan alam di lahan pertanian, perkebunan dan lingkungan alami. Ini tentu saja memerlukan waktu bertahun-tahun, sehingga PHT juga meliputi solusi pengendalian hama jangka pendek, termasuk penggunaan pestisida alami.
PHT menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama, untuk mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama Mengurangi jumlah permasalahan hama jika sudah terjadi, Menggunakan pengendalian alami untuk mengatasi permasalahan yang sudah terjadi Setiap bagian dalam lingkungan berkaitan erat dengan setiap bagian lainnya, termasuk manusia. Apa yang terjadi pada satu bagian dari sistem atau lingkungan Akan mempengaruhi bagian-bagian lainnya dari sistem atau lingkungan tersebut. Ini adalah filosofi yang penting dalam PHT dan masa depan yang berkelanjutan. Jadi, untuk berhasilnya PHT kita haruslah memahami bagaimana setiap bagian dalam sistem bekerja dan bagaimana mereka saling bekerjasama. (Misalnya, tanah, serangga, tanaman dan pepohonan, burung, binatang, air, manusia, teknologi).
Sistem PHT akan membantu untuk Mengurangi penggunaan sumber daya dan produk yang mahal, karena lahan akan “merawat” dirinya sendiri secara terus-menerus, serta sumber daya yang dibutuhkan lebih banyak berasal dari sumber daya lokal Memperbaiki kualitas tanah, tumbuhan dan lingkungan Meningkatkan produksi dari tanah secara keseluruhan Meningkatkan keanekaragaman dan daya tahan terhadap hama, penyakit dan cuaca ekstrim Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitarnya Pengendalian Hama Terpadu dapat diterapkan di kebun rumah skala kecil, kebun untuk pasar, hingga lahan pertanian skala besar seperti padi, tanaman buah-buahan dan juga untuk keseluruhan sistem. Untuk menjadi sehat dan kuat, tanaman membutuhkan kondisi yang baik untuk tumbuh, yang meliputi , Tanah yang subur, Air yang cukup dan Sinar matahari yang cukup
Jenis tanaman yang satu dengan yang lainnya membutuhkan kondisi yang berbeda-beda. Beberapa jenis tanaman menyukai tanah yang sangat kering, beberapa menyukai tanah yang lembab, beberapa menyukai tempat yang teduh, beberapa menyukai sinar matahari yang berlebihan dll. Ada berbagai macam ‘musim mikro’ dalam setiap lahan, jika tanaman cocok dengan kondisi yang dibutuhkan, mereka akan tumbuh dengan baik dan memiliki daya tahan yang kuat terhadap penyakit.
Tanah yang sehat dan hidup, yang mengandung berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman, merupakan teknik yang paling penting dalam PHT. Jika tanaman diberi makan dan dijaga oleh tanah yang sehat, tanaman itu akan menjadi lebih sehat dan tumbuh dengan kuat serta mengurangi kemungkinan untuk diserang hama dan penyakit Jika terserang hama, kerusakan akan dapat diperlambat dan proses penyembuhan akan lebih cepat Jika tanah (lingkungan) yang mengelilingi lahan agrikultur itu sehat dan beranekaragam, kemungkinan timbulnya permasalahan hama yang lebih besar akan dapat dikurangi. Dalam hal ini tanaman nilam yang tidak mendapatkan perawatan intensif maka akan menyebabkan mudah diserang penyakit layu
Penyakit layu bakteri pada nilam disebabkan oleh Ralstonia solanacearum Penyakit ini menyebar melalui bahan tanaman, dan menyerang tanaman muda sampai tanaman berproduksi. Kondisi lingkungan yang cocok untuk perkembangan penyakit dapat mendorong penyakit berkembang secara pesat. Ditambah lagi petani belum melakukan pengelolaan penyakit secara benar, seperti menggunakan setek nilam sebagai bibit dari kebun yang terinfeksi penyakit layu bakteri, membiarkan sisa-sisa tanaman sakit, dan tidak melakukan pemupukan sehingga dapat memacu perkembangan penyakit layu bakteri. Strategi pengendalian penyakit layu bakteri didasarkan pada konsep pengendalian yang tepat berdasarkan pertimbangan kelayakan teknologi, ekologi, ekonomi, dan sosial budi daya. Pengendalian bakteri patogen akan lebih efektif bila dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan berbagai teknik pengendalian, meliputi varietas tahan atau toleran, teknik budi daya (pergiliran tanaman, bahan organik, pemupukan), pengendalian menggunakan agens hayati, pestisida nabati dan kimiawi, serta membatasi penyebaran bakteri patogen termasuk peraturan karantina.


PEMBAHASAN

Penyakit layu bakteri nilam yang di sebabkan oleh beberapa jenis serangga yang berpotensi sebagai agen penyebar penyakit layu bakteri antara lain serangga dari ordo Hymenoptera (Apidae), Diptera (Chloropidae, Scaaridae, Sarchopagidae, Antomyidae, Platyzidae, Tephritidae, Drosophilidae, Muscidae, Syrphidae, Culicidae), Lepidoptera (Coleophoridae), Blattaria, (Blattidae) yang menyebar secara merata pada satu areal pertanaman dengan gejala daun layu dan diakhiri dengan kematian tanaman dalam waktu singkat .Gejala awal serangan penyakit berupa salah satu daun pucuk layu dan diikuti dengan daun bagian bawah. Setelah terlihat gejala lanjut dengan intensitas serangan di atas 50%, tanaman akan mati dalam waktu 7−25 hari. Pada serangan lanjut, akar dan pangkal batang membusuk dan terlihat adanya massa bakteri berwarna kuning keputihan seperti susu. Bentuk gejala ini merupakan ciri khas dari serangan patogen penyebab penyakit layu bakteri .

Gambar penyakit layu pada tanaman nilam

Penyebaran Bakteri Patogen
R. solanacearum merupakan patogen tular tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan tanaman inang. Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup diduga sangat bergantung pada keberadaan tanaman inang. menemukan berbagai tanaman inang R. solanacearum dari berbagai lokasi di Indonesia. Isolat-isolat yang diperoleh dari tanaman inang tersebut bervariasi dalam hal biovar dan patogenisitasnya. Strain patogen yang spesifik pada tanaman inang terdapat pada lahan tertentu. Hal tersebut berkaitan dengan faktor lingkungan, baik faktor abiotik seperti suhu, tipe tanah, dan curah hujan maupun faktor biotik, sebagai contoh keberadaan nematoda dapat memperparah serangan penyakit layu bakteri pada beberapa jenis tanaman termasuk nilam, karena nilam merupakan salah satu tanaman inang bagi nematoda.

STRATEGI PENGENDALIAN
Pengendalian penyakit layu bakteri perlu memperhatikan epidemiologi patogen yang kompleks seperti strain R. Solanacearum yang berbeda, tanaman inang, dan kemampuan patogen untuk bertahan hidup cukup lama di dalam tanah meskipun tanpa tanaman inang. Faktor lingkungan yang mendukung perkembangan patogen antara lain adalah suhu dan curah hujan yang tinggi. Teknik pengendalian penyakit layu bakteri dijelaskan berikut ini.

Varietas Tahan
Penggunaan varietas tahan atau toleran merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman termasuk penyakit layu bakteri, Untuk mengetahui ketahanan varietas tersebut terhadap R. solanacearum, telah dilakukan pengujian seleksi ketahanan tingkat bibit di rumah kaca dan tanaman dewasa di lapangan. Oleh karena itu, varietas Sidikalang paling ideal untuk dikembangkan lebih lanjut karena selain toleran terhadap R. solanacearum juga toleran terhadap tiga spesies nematoda yaitu Pratylenchus brachyurus, Meloidogyne incognita, dan Radopholus similis.

Teknik Budi Daya
Nilam umumnya dibudidayakan dengan cara perladangan berpindah. Cara ini dilakukan petani untuk mengatasi berkurangnya kesuburan tanah, serangan penyakit layu bakteri dan penyakit lainnya, sehingga diperoleh produksi yang tinggi dan pertanaman nilam bebas dari serangan patogen penyakit layu bakteri. Namun, perladangan berpindah mengakibatkan terjadinya kerusakan hutan yang semakin luas dan parah. Langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan untuk mengatasi masalah ini adalah menerapkan perladangan menetap, pengelolaan penyakit, dan teknik budi daya yang tepat. Pengendalian penyakit dengan menggunakan teknik budi daya antara lain adalah pemakaian mulsa jerami padi dan ampas nilam, pemupukan organik dan anorganik serta abu sekam. Pemupukan akan meningkatkan keseimbangan hara di dalam tanah yang diperlukan tanaman untuk bertahan dari serangan R. solanacearum, karena bila kondisinya lemah, tanaman mudah terserang patogen. Hasil penelitian Asman (1996) di Aceh, Sumatera Barat, dan Jawa Barat menunjukkan bahwa pemberian mulsa ampas nilam dapat menekan perkembangan penyakit sampai 60%, sedangkan pemberian mulsa jerami padi kurang berpengaruh dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri. Dekomposisi ampas nilam dapat meningkatkan mikroorganime antagonis di dalam tanah sehingga menghambat pertumbuhan R. solanacearum . Pemberian pupuk organik seperti kotoran sapi dapat menekan perkembangan penyakit layu. Hal ini karena nilam menghendaki bahan organik tinggi, serta bahan organik diduga mengandung mikroorganisme perombak yang bersifat antagonis terhadap patogen.

Hasil penelitian di Pasaman Barat Sumatera Barat menunjukkan pemberian pupuk kandang dan abu sekam dapat menekan perkembangan penyakit dari 87% menjadi 53,30%. Pada umumnya nilam ditanam secara polikultur di lahan bukaan baru dengan sistem ladang berpindah, tanpa pengolahan tanah dan pemupukan . Pola tanam seperti itu akan mempercepat penyebaran penyakit layu dari satu kebun ke kebun lainnya. Di samping itu, pembukaan ladang baru dengan cara penebangan hutan akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Pergiliran tanaman merupakan pola tanam nilam yang tepat untuk mengatasi penyakit layu bakteri. Jenis tanaman yang digunakan dalam pola pergiliran tanaman adalah bukan tanaman inang dari bakteri patogen penyebab penyakit layu bakteri

Pengendalian Hayati
Pengendalian hayati merupakan alternatif pengendalian penyakit layu pada nilam. Bakteri Pseudomonas fluorescens dan Bacillus sp. akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk pengendalian penyakit tanaman. P. fluorescens diketahui dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh R. solanacearum . Hasil pengujian beberapa isolat P . fluorescens yang berasal dari rizosfer nilam menunjukkan sebagian besar isolat tersebut dapat menghambat pertumbuhan koloni R. solanacearum secara bakteriostatik dan bakterisidal dengan zona penghambatan 1−40 mm. Dari hasil pengujian pengendalian penyakit pada bibit nilam di rumah kaca, ternyata P. fluorescens dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri sekitar 95%. Hasil percobaan lapangan menunjukkan bahwa P. Fluorescens dapat menekan perkembangan penyakit layu bakteri sebesar 38−61%. P. fluorescens dapat menekan pertumbuhan patogen di dalam tanah dan permukaan akar melalui mekanism kompetisi ruang dan nutrisi, produksi antibiosis (antibiotik dan asam sianida) dan siderofor serta stimulasi ketahanan tanaman. P. fluorescens sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dapat Menghasilkan hormon pertumbuhan tanaman sehingga kemungkinan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Agen hayati Bacillus sp. juga diketahui mampu mengendalikan beberapa patogen tular tanah. Selain itu, Bacillus sp. juga mampu memacu pertumbuhan tanaman. Bacillus sp. Dapat menghasilkan antibiotik yang mampu menekan pertumbuhan berbagai patogen.

Pestisida Nabati
Pemanfaatan pestisida nabati merupakan salah satu pengendalian alternatif penyakit layu bakteri nilam . Bahan nabati antara lain berasal dari tanaman atsiri yang menghasilkan senyawa-senyawa volatil yang menunjukkan aktivitas sebagai antibakteri dan antifungal terhadap patogen tanaman . Serai wangi (Andropogon nardus Andrews) dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati karena mengandung sitronelal dan geraniol yang merupakan komponen utama minyak serai wangi. Kedua komponen tersebut mempunyai sifat antibakteri dan antifungal yang sangat kuat. hasil pengujian komponen sitronelal dan geraniol terhadap R. solanacearum penyebab penyakit layu bakteri nilam secara in vitro, menunjukkan bahwa kedua komponen tersebut dapat menghambat pertumbuhan koloni R. solanacearum (Nasrun 2005).

Pengendalian secara Kimiawi
Pengendalian penyakit layu bakteri secara kimiawi dengan antibiotik Agrep dapat menekan perkembangan penyakit sampai 67% terutama karena kontaminasi berkurang. Namun demikian, pengendalian secara kimiawi harus merupakan alternatif terakhir apabila teknik pengendalian lainnya dinilai tidak berhasil. Pengendalian secara kimiawi harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: 1) bakterisida yang digunakan adalah jenis yang terdaftar atau diizinkan oleh Menteri Pertanian, 2) memenuhi kriteria enam tepat yaitu tepat jenis, mutu, waktu, sasaran, dosis, dan konsentrasinya serta cara dan alat aplikasinya, dan 3) tidak membahayakan manusia dan lingkungan.

Pembatasan Penyebaran Bakteri Patogen
Membatasi penyebaran bakteri patogen dari satu kebun terinfeksi ke kebun yang sehat merupakan cara pengendalian yang tepat. Namun cara ini sulit dilakukan oleh petani karena secara ekonomi pada keadaan tertentu tidak menguntungkan. Namun bila dilakukan secara terpadu dengan komponen pengendalian lainnya dapat menekan populasi bakteri patogen. Bakteri patogen dapat menyebar dari satu kebun ke kebun yang lain melalui bahan tanaman, tanah, dan air. Selain itu, bakteri patogen dapat tinggal sampai 2 tahun di dalam tanah meskipun tanpa tanaman inang. Pada keadaan lingkungan yang sesuai, bakteri patogen pada stadia tahan atau istirahat akan berkembang. Berdasarkan bentuk epidemiologi penyakit layu bakteri nilam maka pencegahan penyebaran atau masuknya bakteri patogen ke daerah lain dapat dilakukan dengan: 1) sanitasi dengan perendaman setek nilam dalam suspensi antibiotik, 2) eradikasi nilam terinfeksi penyakit layu bakteri, dan 3) tidak menggunakan bibit nilam yang berasal dari kebun yang terinfeksi bakteri patogen (Asman et al. 1992).

Pengendalian secara Terpadu
Pengendalian secara terpadu merupakan salah satu strategi pengendalian penyakit layu bakteri pada nilam dengan mengombinasikan beberapa komponen teknologi pengendalian, meliputi penggunaan varietas tahan atau toleran, teknik budi daya (pergiliran tanaman, bahan organik, dan pemberaan), pengendalian hayati, pestisida nabati, pengendalian kimiawi, dan pencegahan penyebaran patogen. Pengendalian secara terpadu dapat dilakukan dengan menggunakan varietas toleran (Sidikalang), agens hayati P. fluorescens dan Bacillus sp., mulsa, dan pestisida nabati serai wangi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknik budi daya, bakterisida sintetis, pupuk kandang dan buatan, mulsa serta abu sekam dapat menekan laju serangan penyakit layu bakteri nilam sampai 86,50%. Untuk mendapatkan teknologi pengendalian penyakit layu bakteri nilam tepat guna di tingkat petani, perlu dilakukan on farm research yang melibatkan petani, hal ini dilakukan agar petani dapat secara langsung menerapkan teknologi pengendalian penyakit secara utuh. Kemudian untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada petani agar dapat mengadopsi teknologi secara cepat dapat dilakukan melalui pelatihan dan pendidikan para petugas melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).



KESIMPULAN DAN SARAN

Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh R. solanacearum merupakan masalah utama dalam budi daya nilam. Serangan penyakit ini dapat menurunkan produksi secara nyata sehingga menimbulkan kerugian yang besar pada petani. Hingga kini belum ada teknologi yang tepat untuk mengendalikan penyakit layu bakteri pada nilam. Pengendalian penyakit layu bakteri nilam dapat dilakukan dengan menanam varietas toleran terhadap R. Solanacearum yaitu Sidikalang, teknik budi daya (pupuk anorganik dan organik, mulsa dan pergiliran tanaman), agens hayati (P. Fluorescens dan Bacillus sp.), pestisida nabati (minyak serai wangi), pestisida kimiawi (antibiotik Agrep), dan membatasi penyebaran bakteri patogen pada daerah yang belum terinfeksi bakteri patogen. Untuk mendapatkan varietas tahan terhadap R. solanacearum dengan produksi tinggi, perlu dilakukan penelitian dan evaluasi secara berkelanjutan menggunakan genom-genom baru, mulai dari pengujian laboratorium, rumah kaca sampai ke lapangan. Untuk mengoptimalkan aplikasi teknologi pengendalian bakteri patogen perlu dilakukan transfer teknologi secara langsung ke petani. Untuk memenuhi hal ini perlu ada pemberdayaan dan koordinasi berbagai pihak terkait, baik instansi pemerintah, swasta maupun petani. Penerapan teknologi pengendalian penyakit layu bakteri nilam secara terpadu diharapkan dapat mengatasi masalah penyakit layu bakteri nilam serta meningkatkan produksi. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.




DAFTAR PUSTAKA


Arwiyanto, T. 1997. Pdf. Pengendalian hayati penyakit layu bakteri nilam.
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia .

Nasrun dan nuryani, pdf . Penyakit layu bakteri pada nilam
Dan strategi pengendaliannya

Modul pelatihan no.9 . Pengendalian Hama Terpadu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar